Keren! Cabang Olahraga Maskulin di Olimpiade Tokyo 2020 Ini Diwakili Atlet Perempuan

Apakah Kawan Puan tahu bahwa dulunya banyak cabang olahraga di Olimpiade yang hanya dipertandingkan bagi atlet laki laki? Contohnya saja gulat, sepak bola, angkat besi, dan berkuda? Pada cabang olahraga tersebut, atlet perempuan tidak boleh ikut. Pasalnya, olahraga tersebut dianggap maskulin dan tidak cocok untuk perempuan.

Bahkan jumlah cabang olahraga untuk atlet perempuan di Olimpiade tahun 1900 hanya 3 saja. Jauh berbeda dengan jumlah cabang olahraga untuk laki laki yakni 18. Namun semua itu berubah seiring waktu. Olimpiade Tokyo 2020 adalah contoh nyata bahwa olahraga maskulin pun bisa diwakili oleh atlet perempuan.

Di Olimpiade Tokyo 2020, ada 46 cabang olahraga untuk atlet perempuan dan 45 cabang olahraga untuk atlet laki laki. Salah satu badan PBB untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan pernah membuat infografik yang menunjukkan kenaikan tingkat partisipasi perempuan dalam cabang olahraga maskulin di Olimpiade. Inilah deretan cabang olahraga maskulin di Olimpiade Tokyo 2020 yang diwakili oleh atlet perempuan.

Cabang olahraga atletik pada Olimpiade tahun 1900 hanya untuk atlet laki laki. Hal tersebut terus berlaku sampai dengan tahun 1920. Kondisi berubah saat penyelenggaraan Olimpiade tahun 1960, dimana sejak itu hingga kini, atletik adalah cabang olahraga atlet laki laki dan perempuan.

Siapa sangka bahwa renang dulunya adalah cabang olahraga yang dianggap maskulin di Olimpiade? Dalam perhelatan Olimpiade tahun 1900, renang adalah cabang olahraga yang hanya boleh diikuti oleh atlet laki laki. Namun hal itu berubah di penyelenggaraan Olimpiade tahun 1920, dimana renang adalah cabang olahraga yang bisa diwakili oleh atlet perempuan maupun laki laki hingga masa kini.

Anggar juga termasuk olahraga yang dulunya dianggap maskulin di Olimpiade. Pada Olimpiade tahun 1900, anggar hanya boleh dilakukan oleh atlet laki laki. Tapi di Olimpiade Tokyo 2020, kita bisa melihat bahwa anggar bisa diwakili oleh atlet perempuan maupun laki laki.

Sangat jarang bukan, kita melihat perempuan bertanding tinju? Sebab tidak dimungkiri bahwa olahraga ini tergolong maskulin. Tinju baru dipertandingkan di Olimpiade tahun 1920 untuk atlet laki laki saja. Sampai dengan tahun 2000, tinju masih untuk atlet laki laki. Namun di Olimpiade Tokyo 2020, tinju pun dipertandingkan untuk atlet perempuan.

Salah satu atlet tinju perempuan di Olimpiade Tokyo 2020 adalah Agnes Alexiusson dari Swedia. Angkat besi atau weightlifting pertama kali dilombakan dalam Olimpiade tahun 1900. Sama seperti tinju, angkat besi dulunya dianggap maskulin sehingga hanya dipertandingkan bagi atlet laki laki.

Hal tersebut berlangsung lama sampai dengan penyelenggaraan Olimpiade tahun 1980. Baru di tahun 2000 angkat besi dipertandingkan pula untuk atlet perempuan. Salah satu atlet perempuan di Olimpiade Tokyo 2020 yang bertanding di cabang olahraga ini adalah Windy Cantika Aisah yang berhasil mempersembahkan medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade tahun ini.

Pada Olimpiade tahun 1900, panahan adalah cabang olahraga untuk atlet laki laki. Namun mulai tahun 1920 dan seterusnya, panahan atau archery adalah cabang olahraga untuk laki laki dan perempuan. Banyak atlet panahan perempuan dari berbagai negara membuktikan bahwa di olahraga yang dianggap maskulin ini mereka juga bisa berprestasi.

Cabang olahraga hockey baru dipertandingkan saat Olimpiade tahun 1920 untuk atlet laki laki. Namun di Olimpiade tahun 1980 sampai dengan Olimpiade Tokyo 2020 ini, hockey bisa diwakili oleh atlet perempuan juga. Beberapa negara telah mengikutsertakan atlet perempuan mereka untuk bertanding di cabang olahraga hockey Olimpiade Tokyo 2020 contohnya Belanda, Argentina, Jerman, dan Jepang.

Gulat pada Olimpiade tahun 1900 hanya untuk atlet laki laki. Pada saat itu, hanya ada gulat Greco Roman yang dipertandingkan. Lalu mulai Olimpiade 1920, ada gulat freestyle, namun lagi lagi masih diwakili atlet laki laki saja. Kabar baik, di Olimpiade Tokyo 2020, gulat freestyle sudah bisa diwakili oleh atlet perempuan juga.

Salah satu atlet perempuan di Olimpiade Tokyo 2020 yang mewakili cabang olahraga gulat adalah Enas Ahmed dari Mesir. Sepak bola sepertinya selalu dianggap sebagai olahraga maskulin ya, Kawan Puan? Bahkan sepak bola sering dijadikan tanda maskulinitas seorang laki laki. Maka tak heran kalau di Olimpiade tahun 1900 sampai dengan 1980, sepak bola adalah cabang olahraga untuk atlet laki laki saja.

Baru di tahun 2000 dan di Olimpiade Tokyo 2020, sepak bola dipertandingkan untuk atlet laki laki maupun perempuan. Beberapa negara yang mengirim atlet perempuan untuk cabang olahraga sepak bola di antaranya adalah Brazil, Swedia, dan Kanada. Berkuda memang sejak zaman dulu dianggap sebagai aktivitas maskulin yang hanya boleh dilakukan oleh laki laki, begitu pun di Olimpiade tahun 1900 sampai dengan 1920.

Tapi di Olimpiade tahun 1960 sampai dengan Olimpiade Tokyo 2020, berkuda adalah cabang olahraga yang bisa diwakili oleh atlet perempuan dan laki laki. Salah satu contoh atlet berkuda perempuan di Olimpiade Tokyo 2020 adalah Sara Algotsson Ostholt dari Swedia. Banyaknya jumlah olahraga maskulin yang kini bisa diwakili oleh atlet perempuan di Olimpiade Tokyo 2020, menunjukkan bahwa olahraga kini adalah milik semua, tidak melulu salah satu gender saja.

Adanya cabang olahraga untuk perempuan pun memberikan kesempatan bagi para atlet perempuan seluruh dunia untuk menekuni olahraga yang mereka sukai, bahkan bertanding di Olimpiade dan meraih capaian baru. (*) Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.