KMP Yunicee yang Tenggelam di Selat Bali Dibuat Tahun 1992 dan Terakhir Docking Desember 2020

Kapal penumpang KMP Yunicee yang tenggelam di Perairan Selat Bali diketahui dibuat tahun 1992. Kapal tersebut pun senantiasa melakukan perawatan secara rutin. Terakhir, kapal melakukan docking pada 19 Desember 2020.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengatakan setiap kapal ferry memang harus melakukan docking untuk perawatan. Untuk penyebab pasti kapal tenggelam bukan dikarenakan persoalan pada mesin kapal. Melainkan pada arus laut selat Bali yang cukup kuat.

“Kapal dibuat tahun 1992. Dan docking terakhir Desember 2020. Dan harusnya juga pada 2021 ini melakukan lagi untuk setiap tahunnya,” ucapnya, Rabu 30 Juni 2021. Dijelaskannya, bahwa dari Ketapang kapal berangkat sekira pukul 17.29 Wita dan mengalami kendala di jarak kurang lebih 500 meter sebelum bibir pantai. KMP Yunicee terkena hempasan arus dan terbawa ke selatan.

Kemudian kapal mengalami kemiringan lima derajat hingga 10 derajat hingga akhirnya tenggelam. “Korban yang diselamatkan dan dibawa oleh kapal menuju Ketapang 36 penumpang. Sedangkan, untuk yang dibawa ke Gilimanuk 10 penumpang,” ungkapnya. Dari total 46 penumpang kapal ini, sambungnya, 36 penumpang selamat dan dibawa menuju ke Pelabuhan Ketapang dan dirawat di Banyuwangi.

Sedangkan untuk di Pelabuhan Gilimanuk terdapat 10 orang, tujuh meninggal dan tiga selamat. Di posko yang didirikan Polisi, sampai dengan sekarang ada 16 orang, lima orang ada di dalam manifest. Sedangkan, sebelas orang di posko tidak ada di dalam manifest.

“Sedangkan manifest sendiri yang resmi ialah 41 dan Nakhoda serta kru kapal 16 orang. Total ada 57,” ujarnya. Budi mengaku, dalam pencarian hari kedua ini melibatkan unsur kepolisian Basarnas dan TNI AL, diperkirakan karena arus kuat kapal sudah bergeser dari tempat awal tenggelam. Kalau pas di lokasi sendiri diperkirakan tenggelam dengan kedalaman 70 meter.

Kalau bergeser diduga ke selatan dan saat ini sudah didirikan posko yang akan stand by sampai dengan tujuh hari dan bisa ditambah sepanjang masih dibutuhkan. “Untuk tenaga pencarian berjumlah lebih dari 200 orang personel dari beberapa instansi yang terjun melakukan pencarian,” katanya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.