Pengertian Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerita Pendek, Beserta Contoh Cerpen

Berikut pengertian dan penjelasan materi sekolah tentang cerpen. Dikutip dari buku Teori Pengkajian fiksi, menurut Burhan (2012) cerpen merupakan sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Cerpen memuat suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan dalam sebuah novel.

Burhan juga menyebutkan bahwa panjang cerpen itu bervariasi, ada yang pendek ada juga yang panjang. Dikutip dari , cerpen berbentuk prosa naratif fiktif. Cerita yang dituliskan cenderung pendek, padat, dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya karya fiksi lain yang lebih panjang

Cerita pendek (cerpen) memiliki dua unsur pembangun di dalamnya, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Unsur Instrinsik merupakan unsur unsur yang ada di dalam cerpen itu sendiri. Sementara untuk unsur ekstrinsik merupakan unsur yang terdapat dari luar cerpen tersebut.

Unsur intrinsik terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur atau plot, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik terdiri dari latar belakang masyarakat, latar belakang penulis, serta nilai nilai yang ada di dalam karya sastra tersebut. Selain terdapat unsur pembangun, di dalam cerpen juga terdapat nilai nilai penting seperti:

Nilai sosial Nilai moral Nilai budaya

Nilai Agama. Dikutip dari , simak contoh karya cerita pendek berikut ini. Ninda bersama keluarganya akhirnya tiba di peternakan milik Kakek Duta.

Kemudian papa memarkirkan mobilnya di dalam halaman rumput luas yang dikelilingi pagar kayu. Mobil papa kini terparkir di bawah pohon besar. Orang tua Ninda menengok ke belakang sebelum turun dari mobil dan mereka melihat ke Ninda dengan agak cemas. “Nin, papa akan tinggalkan mobil di sini. Kamu dan Tedi tunggu sebentar di sini ya. Papa dan Mama cuma sebentar ke kandang kuda Kakek Duta. Kudanya akan melahirkan bayi kuda,” kata papa.

“Nanti kalau bayinya sudah lahir, kamu mama jemput ya,” kata mama lagi. Ninda mengangguk. Ia sudah beberapa kali ikut mama dan papa ke tempat istal kuda. Mama dan papanya adalah dokter hewan. Mereka sebetulnya akan berkunjung ke rumah Bibi Luisa, adik mama Ninda. Hari itu, Bibi Luisa berulang tahun. Namun Kakek Duta menelepon papa Ninda saat di jalan tadi dan meminta tolong untuk ke istalnya sebentar. Kudanya akan melahirkan bayi namun mengalami kesulitan. Induk kuda tampak kesakitan katanya.

Ninda merasa bosan di dalam mobil. Ia segera turun. Di dekatnya ada pohon oak besar. Dahan dahannya juga besar dan melengkung. Daun daunnya tampak indah keemasan karena sedang musim gugur. Mereka berada di halaman berumput milik Kakek Duta. Halaman yang sangat luas, tempat kuda kuda kakek Duta berlari dan merumput. Pagar pagar kayunya cukup tinggi dan pagarnya digembok. Walau tidak digembok, Ninda juga tidak berani keluar dari tempat itu. “Oh, Tedi. Aku tidak bisa berpikir apa apa. Kita main apa, ya, Tedi.

Rumputnya basah. Aku tidak mau mengotori sepatuku. Aku kan mau ke ulang tahun Bibi Luisa,” Ninda berbisik di telinga bonekanya. “Aku harap ada seseorang yang bisa diajak main.” Saat itu, tiba tiba angin bertiup menggerakkan dahan dahan pohon besar pohon oak.Daundaungugur dari pohon mulai berjatuhan di sekeliling mereka. “Sebelumdaun daunitu jatuh, aku bisa mengucapkan keinginanku…” gumam Ninda sambil tersenyum.

Ninda menjatuhkan Tedi di rumput. Ia lalu berlari dengan kedua tangan direntangkan. Ia tak peduli lagi sepatunya kotor. Adadaunbesar keemasan yang berputar dan jatuh ke arah mereka. “Aku harap, bayi kudanya bisa lahir dengan selamat. Aku harap induk kuda tidak sakit lagi,” bisik Ninda mengucapkan keinginannya. Lalu angin bertiup lagi, semakin kencang dari yang bertama. Saat itudaundaunberguguran lagi dan jatuh ke tanah membentuk putaran spiral, berkeliling dan berkeliling. Ninda lari di sekeliling putarandaun daunitu sambil menggendong Tedi.

Tiba tiba angin berhenti bertidup.Daundaunberhenti berputar dan jatuh ke tanah. Ninda kelelahan. Ia lalu menggendong Tedi, masuk kembali ke dalam mobil. Ninda beristirahat dan mengatur napas sebentar di dalam mobil. Beberapa saat kemudian, pohon mulai berbunyi lagi. Angin datang lagi dandaun daunkering kembali ditiup. Ninda dan Tedi keluar dari mobil lagi dan mengejardaun daunlagi. Ninda dan Tedi tidak kesepian. Sampai akhirnya Mama datang dan menjemput mereka.

“Ayo, lihat bayi kudanya sudah lahir dengan selamat. Induknya juga sudah sehat,” ajak Mama. Wah, gembiranya hati Ninda, doanya terkabul. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.